DARI KARTINI HINGGA ROHANA KOEDOES

Habis-Gelap-Terbitlah-Terang-01

Sejak SD biasanya kita sudah dikenalkan dengan sosok RA.Kartini. Tokoh yang dikenal memiliki jasa besar dalam rangka memajukan wanita Indonesia, menginspirasi agar wanita Indonesia untuk bersekolah, memiliki ilmu dan wawasan yang luas, bahkan wanita juga harus mampu mensejajarkan diri dengan laki-laki. Itulah diantara pesan yang kita dapat ketika berbicara tentang Kartini. Lantas benarkah Kartini adalah satu-satunya sosok tokoh wanita yang paling layak dijadikan sebagai teladan dan sumber inspirasi bagi wanita Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu perlu proses diskusi panjang.

Putri Sisingamangaraja XII - CV Yasagung

Ketika kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah UNIMED, diantara dosen yang sering mengkritisi penokohan Kartini adalah Dr.phil.Ichwan Azhari. Ketika itu (tahun 2003-2008) kita diperkenalkan tokoh-tokoh wanita lain yang memiliki jasa besar untuk Indonesia. Dari wilayah Sumatera Utara misalnya ada Lopian Boru Sinambela yang merupakan putri kandung Sisingamangara XII yang ikut berjuang, bergerilya, berperang melawan Belanda. Lopian Boru Sinambela menurut Dr.phil.Ichwan Azhari lebih heroik dari Kartini. Namun sangat disayangkan banyak putra-putri Sumatera Utara tidak mengenal beliau.

13007100_143151229416397_7143813739968164855_n

Belakangan ini (sejak 2015 melalui koran Waspada) Dr.phil.Ichwan Azhari memperkenalkan tokoh wanita lain, yaitu Rohana Koedoes. Kemudian pada tanggal 13 April 2016, melalui akun facebook Dr.phil.Ichwan Azhari  menuliskan “Rohana Koedoes (1884-1972) yang hidup sezaman dengan Kartini dianggap lebih hebat dari Kartini. Jika Kartini menulis gagasan dalam bentuk surat pribadi, yang membacanya hanya teman korespondensinya di Belanda, Rohana menulis gagasan dan diterbitkan dalam koran perempuan pertama Soenting Melayoe (Koto Gadang, 1912) yang didirikannya. Kartini semasa hidupnya baru punya gagasan mendirikan sekolah dan belum pernah mendirikan sekolah. sekolahnya baru berdiri setelah dia meninggal (itupun diprakarsai oleh sahabat-sahabat Belandanya tahun 1915), sementara Roehana Koedoes sudah mendirikan sekolah secara nyata sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916). Rohana pelopor pers perempuan, mendapat anugerah sebagai perintis pers Indonesia, kakak tiri Soetan Sjahrir (Perdana Menteri RI) serta makcik penyair terkemuka asal Medan, Chairil Anwar.

Dalam berbagai sumber Rohana Koedoes disebut bergabung dalam jajaran Redaksi Koran “Perempoean Bergerak” Medan walau dalam edisi tahun 1919 namanya belum tercantum. Dalam biografinya dijelaskan bahwa perempuan asal Sumatera Barat ini pindah ke Lubuk Pakam, Sumatera Utara, tahun 1920, menjadi guru di Lubuk Pakam dan bergabung dengan koran Perempoean Bergerak Medan.

“Berpuluh tahun dunia pendidikan kita mengkonstruksi Kartini secara keliru. Akankah kita teruskan hal ini di sekolah-sekolah dalam rangka “mencerdaskan bangsa?”.

Diposting oleh Herman Siregar

Guru Sejarah SMA Negeri 1 Tanjungbalai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s