Sutan Casayangan: Tokoh Pionir Yang Terlupakan

Sutan Casayangan: Tokoh Pionir Yang Terlupakan

Sutan Casayangan (baca Kasayangan) Soripada (1874 – 1927) memiliki nama kecil Rajiun Harahap. Sutan Casayangan sendiri adalah semacam gelar yang diberikan kepadanya setelah menikah. Dalam tradisi masyarakat Tapanuli Selatan (Tapsel) sangatlah tidak sopan menyebutkan nama kecil seseorang yang sudah menikah, akan lebih baik rasanya memanggilnya dengan goar raja/goar matobang (nama raja/ nama setelah tua) yang ditabalkan saat seseorang itu menikah. Jadi hampir semua masyarakat Tapsel yang laki-laki pasti memiliki goar raja. Oleh karenanya akan lebih sopan kalau kita menyebut Rajiun Harahap dengan Sutan Casayangan saja, untuk menghormati tradisi masyarakat Tapsel.

Berdasarkan cerita yang disampaikan Basyral Hamidy Harahap dalam bukunya yang berjudul “Greget Tuanku Rao”, Sutan Casayangan lahir di Batunadua – Padangsidimpuan, tahun 1874. Kakek Sutan Casayangan bernama Patuan Soripada, seorang Kepala Kuria Batunadua. Sutan Casayangan menyelesaikan pendidikan di Kweekschool Padangsidimpuan (Pendidikan Guru Tingkat Atas), kemudian di akhir tahun 1904, berangkat ke negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan di sekolah guru di Haarlem selama satu tahun sembilan bulan. Kemudian Sutan Casayangan menjadi asisten Prof.Charles Adriaan van Ophuysen (salah seorang guru Sutan Casayangan waktu belajar di kweekschool Padangsidimpuan) di Rijksuniversiteit Leiden untuk mata kuliah Bahasa Melayu, Sejarah Indonesia, Islam, Daerah dan Penduduk Indonesia. Itu berarti Sutan Casayangan sudah memulai karirnya sejak di Belanda dengan menjadi asisten dosen. Selain itu Sutan Casayangan mengikuti pendidikan untuk Hoofdacte selama tiga tahun dan menjadi guru bahasa Melayu di sekolah dagang di Rotterdam dan Haarlem.

Pada bulan Juni 1908, Sutan Casayangan menceritakan gagasannya untuk mendirikan perkumpulan pemuda-pemudi Indonesia di negeri Belanda kepada Mr.J.H.Abendanon. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Abendanon. Pada tanggal 25 Oktober 1908, Sutan Casayangan mengundang 15 orang pemuda dan mahasiswa Indonesia ke kediamannya di Hoogewoerd 49, Leiden. Pertemuan tersebut dipimpin oleh R.M.Sumitro, kemudian Sutan Casayangan memaparkan gagasannya untuk mendirikan Indische Vereeniging sebagai perkumpulan pemuda dan mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Gagasan itu pun diterima, maka lahirlah Indische Vereeniging, Sutan Casayangan terpilih sebagai ketuanya, sedangkan R.M.Sumitro terpilih sebagai sekretaris merangkap bendahara.

Rapat kemudian berlanjut pada tanggal 15 Nopember 1908 di Restoran Oost en West di Den Haag. Rapat tersebut dihadiri oleh Sutan Casayangan, R.M.Sumitro, R.M.P. Sosrokartono (abang kandung Raden Ajeng Kartini), dan R.Husein Jayadiningrat sebagai panitia penyusunan anggaran dasar Indische Vereeniging. Dari pertemuan tersebut ditetapkan bahwa tujuan umum organisasi ini adalah untuk memajukan kesejahteraan dan persaudaraan orang Indonesia yang berada di negeri Belanda.

Dalam perjalanan selanjutnya, pada tahun 1922 Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indoneische Vereeniging. Program kerjanya sudah mulai mengarah kepada perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia. Dua tahun kemudian berubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia, 1924.

Pandangan Para Sejarawan Terhadap Perhimpunan Indonesia

Basyiral Hamidy Harahap, seorang sejarawan yang banyak meneliti tokoh-tokoh asal Sumatera Utara memandang bahwa disamping pemerintah telah menetapkan hari kelahiran Boedi Oetomo, tanggal 20 Mei 1908, sebagai Hari Kebangkitan Nasional juga perlu menjadikan tanggal kelahiran Indische Vereeniging 25 Oktober 1908 (sebagai cikal bakal Perhimpunan Indonesia) sebagai Hari Kesadaran Kebangsaan. Sebab dalam perjalanannya, melalui organisasi inilah pertama kali muncul rasa kebangsaan.

Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan nasional yang dulunya merupakan guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada menilai bahwa Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda tahun 1925 lebih fundamental dari Sumpah Pemuda 1928. Sumpah Pemuda dalam memori kolektif bangsa Indonesia lebih menekankan persatuan, sementara Manifesto Politik 1925 berisi prinsip-prinsip perjuangan yakni, unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Lebih lanjut Sartono Kartodirdjo memandang bahwa Manifesto Politik 1925 telah berhasil merumuskan nasionalisme Indonesia sebagai ideologi, gerakan tersebut mengarahkan gerakan etno-nasionalisme menjadi gerakan ke arah Indonesia merdeka.

Asvi Warman Adam, seorang peneliti LIPI menyarankan agar di setiap memperingati Sumpah Pemuda 1928, sebaiknya dalam peringatan tersebut dibahas pula tentang Manifesto Politik 1925. Dalam beberapa tulisannya Asvi Warman Adam juga terlihat sangat sejalan dengan pemikiran Sartono Kartodirdjo tentang kontribusi besar Perhimpunan Indonesia, khususnya momentum Manifesto Politik 1925.

Ahmad Syafii Maarif, merupakan guru besar sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang juga mantan ketua PP Muhammadiyah menegaskan bahwa Indonesia bertransformasi sebuah bangsa baru muncul tahun 1920-an di kalangan PI (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda. Bahkan beliau berpendapat bahwa keputusan politik menetapkan tanggal 20 Mei 1908 saat berdirinya BU (Budi Utomo) sebagai Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) dalam tinjauan kajian sejarah tidak memiliki dasar yang kukuh. Proses lahirnya kesadaran kebangsaan pertama tumbuh dan berkembang di kalangan tokoh-tokoh Perhimpunan Indonesia.

Ichwan Azhari, Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan berpendapat bahwa kurang tepat jika kelahiran organisasi Budi Utomo (BU) tanggal 20 Mei 1908 dijadikan sebagai sebagai tonggak kebangkitan nasional. Beliau justru lebih sepakat kelahiran Indische Vereeninging (Perhimpunan Indonesia) tahun 1908 dijadikan tonggak kebangkitan nasional karena jelas-jelas menuntuk kemerdekaan Indonesia atau anti kolonialisme. Sementara Budi Utomo dalam perjalanannya tidak pernah menentang kolonialisme hingga organisasi ini bubar. Bahkan perlu disadari organisasi Budi Utomo sebenarnya hanya ditujukan untuk orang Jawa dan Madura. …

Memperhatikan pendapat para sejarawan di atas, jelas terlihat bahwa organisasi Perhimpunan Indonesia memiliki kontribusi besar untuk melahirkan rasa kebangsaan (nasionalisme). Namun sadarkah kita gagasan besar tersebut berawal dari berdirinya Indische Vereeniging yang dalam perjalanannya berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia dan tokoh pionir berdirinya organisasi ini adalah Sutan Casayangan. Walau dalam sejarah perjalanan hidup Sutan Casayangan memang bukan tokoh politik sekelas Soekarno dan Hatta, beliau justru lebih memilih mendedikasikan hidupnya dengan menjadi seorang guru. Namun menurut hemat penulis pilihan menjadi guru di era itu justru sangat tepat untuk mencerdaskan anak bangsa agar kemudian lahir lebih banyak lagi tokoh-tokoh berpendidikan yang sadar akan arti penting persatuan dan perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Menurut hemat penulis, pembelajaran sejarah di sekolah sebaiknya selalu dihubungkan dengan konten lokal termasuk pengenalan tokoh-tokoh dari masing-masing daerah. Untuk daerah Sumatera Utara misalnya, mengenalkan tokoh seperti Sutan Casayangan sangatlah penting ketika belajar tentang sejarah terbentuknya negara dan bangsa Indonesia. Karena beliau merupakan tokoh pionir awal berdirinya Indische Vereeniging di Belanda yang dalam perjalanan selanjutnya melalui organisasi inilah lahir rasa kebangsaan (nasionalisme) yang pertama kali menggantikan etno-nasionalisme (nasionalisme regional). Bahkan lebih lagi dari itu, menurut penulis Sutan Casayangan sangat layak untuk diajukan menjadi pahlawan nasional.

Oleh. Herman Siregar

Penulis adalah salah seorang tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Tanjungbalai untuk mata pelajaran sejarah.

6 Comments

  1. “…Sutan Casayangan lahir di Batunadua – Padangsidimpuan, tahun 1874. Kakek Sutan Casayangan bernama Patuan Soripada, seorang Kepala Kuria Batunadua..”

    Patuan Soripada leluhur Sdr. Mulia ini apakah Patuan Soripada I?

    Jika benar, kita masih ada hubungan kekerabatan, karena anak boru Patuan Soripada I adalah leluhur saya, Patuan Natigor Siregar, yang dipindahkan oleh leluhur Sdr. Mulia dari Huta Siijuk (Padang Lawas) ke Luat Marancar sebelum membangun huta baru di Sianggunan karena kesalahan adat.

    Salam,
    Abu Ja’far Siregar

  2. Pak Herman,

    Saya jarang browsing, sehingga terlambat membalas. Mohon maaf.

    Salam kenal sebelumnya dan terima kasih telah menulis perjuangan tokoh yang nyaris terlupakan dari daerah kita.

    Tolong sampaikan salam hangat kami sekeluarga untuk keluarga cucu kepala kuria terakhir Batu Nadua, tetangga pak Herman. Kami sekarang bermukim di Aceh mengikuti (alm.) ayah kami sedangkan namboru dan sebagian besar keluarga kami masih di kampung.

    Saya bisa dihubungi di muhammad[dot]siregar[at]indochinatreasure.com—Bapak Herman silakan menulis email supaya kita bisa bertukar alamat dan nomor telepon jika berkenan. Sekali lagi terima kasih dan semoga sukses selalu.

    Salam,
    Abu Ja’far Siregar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s