Menitipkan Harapan Pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II

Menitipkan Harapan Pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II

Ketika jelang Pilpres 2009 lalu akan dilaksanakan dan pasangan kandidat yang akan bertarung telah diumumkan oleh KPU, saya termasuk orang merasa gundah. Kegundahan tersebut tentunya sangat berasalan. Karena dalam pandangan saya ketiga pasangan yang akan bertarung kurang mengakomodir Islam. Sekedar mencoba membandingkan dengan pilpres 2004. Sepertinya waktu posisi tawar umat Islam begitu kuat dalam penentuan Capres dan Cawapres. Seolah ada rumusan yang harus dipenuhi kalau ingin menang pilpres, yakni komposisi pasangan harus tokoh nasionalis-agamis. Sehingga 4 dari 5 pasangan yang bertarung waktu itu menggunakan rumusan ini. Sebut saja Hasyim Muzadi tokoh NU yang mendampingi Megawati, Sholahuddin Wahid yang juga tokoh NU mendampingi Wiranto, Kemudian Amien Rais salah seorang tokoh kunci Muhammdiyah berpasangan dengan Siswono, serta Hamzah Haz yang saat itu masih menjabat ketua umum PPP berpasangan Agum Gumelar. Dan satu-satunya pasangan nasionalis-nasionalis hanyalah SBY-JK. Kemudian mereka menang.

Fenomena Pilpres 2009 yang baru saja berlangsung sepertinya juga sangat menarik untuk dicermati. Dari tiga pasangan yang ada, ternyata tidak satu pasangan pun menjadikan tokoh yang berlatar agama sebagai pasangannya. SBY misalnya, justru lebih tertarik dengan Boediono yang berlatar seorang ekonom. JK sebagai ketua umum Partai Golkar waktu itu berapsangan dengan Wiranto yang juga ketua umum Partai Hanura. Kemudian Megawati sebagai ketua umum PDI-P berpasangan dengan Prabowo dari Partai Gerindra. Sehingga bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa menggandeng tokoh ormas Islam seperti pilpres 2004 bukanlah sebuah langkah yang strategis untuk memenagkan pilpres 2009. Demikian kira-kira yang terpikir bagi sejumlah elit politik di negeri ini. Atau justru lebih lagi, tokoh Islam belum dipandang sebagai icon yang bisa melahirkan solusi atas berbagai masalah yang dihadapai bangsa Indonesia.

Namun kalau coba cermati lebih mendalam perkembangan politik terakhir setelah kemenangan SBY-Boediono dalam pilpres 2009. sebenarnya posisi tawar umat Islam sangatlah kuat. Sehingga sangatlah wajar kalau umat Islam menaruh harapan besar kepada pemerintahan yang akan terbentuk nantinya. Soalnya, dari kelima parpol peserta koalesi SBY-Boediono yang akan bergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Dua diantara yang telah menandatangani kontrak politik adalah partai Islam (PKS dan PPP). Kemudian dua lagi yang juga telah menandatangani kontrak politik adalah partai nasionalis dengan basis massa Islam (NU dan Muhammadiyah) yakni PKB dan PAN.

Oleh karenanya, koalesi yang menopang pemerintahan SBY-Boediono hendaknya harus terus berusaha memperjuangkan aspirasi umat Islam. Dan bukan sebaliknya.

Kepada seluruh komponen anak bangsa, saya turut menyerukan agar sama-sama mengawal pemerintahan baru ini agar tetap berada pada koridor kebaikan. Dan semoga Allah senantiasa menjaga dan memberi petunjuk kepada para pemimpin bangsa. Kami titipkan harapan pada kabinet Indonesia bersatu jilid II kiranya kan mampu membawa negeri ini menjadi negeri yang adil, makmur, dan sejahtera.

Oleh Herman Siregar

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s