Perjalanan Saya Untuk Bisa Sembuh dari Pterigium

Perjalanan Saya Untuk Bisa Sembuh dari Pterigium

Pterigium adalah salah satu penyakit mata yang sebenarnya tidak berbahaya namun dapat menggangu penglihatan atau terasa kurang nyaman pada mata apabila kena sinar terik matahari, angin kencang, dan debu. Demikian penjelasan dokter setiap kali berkonsultasi tentang sakit mata yang dulu saya derita.

Awal dari sakit mata ini saya derita ketika kerja di sawah bersama orang tua pada saat terik di siang hari sewaktu masih duduk bangku SMU. Ketika itu ada benda kecil yang masuk ke mata saya, terus terjadilah iritasi. Awalnya saya pikir hanya iritasi biasa, sehingga hanya ditetesi dengan obat iritasi.

Ternyata iritasi pada mata saya yang sebelah kanan tak kunjung sembuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Setelah masuk asrama (kebetulan saya sekolah berasrama) saya pun berobat ke dokter Mubin yang buka praktek di komplek sekolah Nurul’ilmi Padangsidimpuan setiap sore. Oleh beliau hanya dikasi tablet dan tetes mata, seperti pada umumnya kita berobat mata ke dokter, kata beliau sakit mata saya biasa saja.

Waktu terus berjalan, ternyata mata saya tak kunjung sembuh total, bolak balik kambuh. Sehingga saya pun memutuskan untuk periksa dokter spesialis mata di RSUD Padangsidimpuan. Yang mengagetkan diri saya waktu adalah tiba-tiba dokter bicara setelah memeriksa mata saya, “matamu ini tak bisa sembuh kalau tidak dioperasi”. Saya waktu itu sempat kaget rada-rada agak emosi. Saya tanya ke dokter, “apa tidak ada cara penanganan lain dok?” dia jawab “tidak” dengan singkat. Terus dia beri penjelasan tambahan bahwa tak usah dioperasi saat itu juga, “terus aja sekolah bahkan kuliah, insyaAllah tak ada masalah. Nanti setelah lulus kuliah, bekerja dan punya uang, kalau mau operasi, operasilah” demikian paparnya. Kalimat tersebut membuat saya sedikit terhibur. Dan sejak itu saya menganggap tak ada masalah di mata saya, dan akan diperiksa ulang setelah lulus kuliah nantinya.

Setelah lulus SMU, saya pun melanjutkan studi ke Unimed dengan program studi Pendidikan Sejarah. Selama menjalani kuliah, saya tidak merasakan ada gangguan yang berarti pada mata saya. Kendati terkadang kalau lelah, mata kena angin, debu, dan panas, terlihat merah pada mata yang sebelah kanan. Dan tak jarang kawan-kawan kuliah bertanya apakah mata saya sedang sakit? Saya jawab, itu taka pa-apa, hanya karena sedikit lelah, atau kena angin berdebu. Mereka pun mungkin mengira kalau mata saya sensitif kena iritasi.

Tahun 2008, Alhamdulillah saya lulus dari Unimed. Dua tahun sebelum lulus saya sudah mulai mengajar di SMA Swasta An-Nizam Medan. Di samping juga pernah jadi tentor sejarah di Bimbingan Belajar Dakwah USU dan Lembaga Pendidikan Primagama cabang Aksara Medan. Di tempat bekerja juga tak jarang kawan-kawan sejawat bertanya kenapa mata saya sering merah. Kadang-kadang kami kira kamu sedang marah, canda mereka waktu. Jawaban saya hampir sama seperti di atas waktu masih kuliah.

Waktu pun terus bergulir, desember 2008 saya dinyatakan lulus tes CPNS di Pemko Tanjungbalai untuk formasi guru sejarah di SMA. Terhitung mulai juli 2009 saya pun memulai karir baru sebagai guru di SMA Negeri 1 Tanjungbalai. Pertanyaan yang sama juga sering saya terima dari kawan-kawan guru di sekolah. Dan jawaban saya juga relatif sama dengan yang sebelum-sebelumnya.

Pertengahan Februari 2011, ketika saya mengikuti rapat kerja pengurus MITI Mahasiswa di Bandung. Salah seorang kawan pengurus MITI-M waktu itu, yang juga merupakan seorang dokter, Nanang Nurofik namanya. Pada saat istirahat sholat tiba-tiba bertanya ke saya, “mata pak Herman kenapa?”. Saya jawab “sakit, dan itu biasa”. Lantas dia bilang coba saya perikasa. Ini namanya pterigium pak. Dan dia pun cerita panjang tentang jenis penyakit mata saya ini serta cara penanganannya secara medis. Sejak itu lah saya tahu bahwa nama sakit mata yang saya derita selama ini adalah pterigium.

Sejak tahun 2011 sebenarnya saya sudah merasakan bahwa pterigium yang saya derita sudah mulai mengganggu penglihatan. Tapi untuk sementara waktu saya coba bersabar untuk tidak periksa ke dokter spesialis mata. Di samping pertimbangan dana juga butuh kesiapan psikologis.

Di akhir Nopember 2011, saya berpikir sudah waktunya untuk memeriksakan kembali mata saya ke dokter spesialis mata dan bertekad untuk segara berobat. Untuk mewujudkan tekad tersebut, saya pun pergi ke RSUD Dr.Mansoer Tanjungbalai untuk konsultasi ke dokter. Ternyata disana sudah tidak ada lagi waktu itu dokter spesialis mata. Oleh petugas Askes, saya disarankan agar ambil surat rujukan ke puskesmas Datuk Bandar, terus ke kantor Askes Tanjungbalai, baru berangkat ke RSUD Kisaran, disana katanya ada dokter spesialis mata. Saya pun mengikuti arahan petugas askes tersebut. Segala kelengkapan administrasi saya urus di Tanjungbalai kemudian berangkat ke RSUD Kisaran. Di luar dugaan saya, betapa buruknya pelayanan kesehatan di negeri ini. Wajar saja ada ungkapan, “orang miskin dilarang sakit”. Tiga hari lamanya saya harus pulang pergi ke Kisaran untuk menjumpai dokter yang dimaksud, karena lama tertahan oleh urusan administrasi yang berbelit-belit. Setelah ketemu dengan dr.H.Hasmui,SpM dia sarankan agar dioperasi, tapi jangan di rumah sakit tersebut, karena fasilitasnya kurang baik. Kalau mau berkorban uang, dia menyarankan agar dioperasi di Medan. Setelah konsultasi dengan beliau, saya pun diarahkan agar menemui dr.Debby Parwis,SpM di Medan (tempat praktik di depan SMA N 1 Medan).

Minggu pertama liburan semester ganjil anak sekolah, saya berangkat ke Medan untuk konsultasi ke dr.Debby Parwis,SpM. Tepatnya tanggal 6 Januari 2012, hari jum’at saya konsultasi ke dr.Debby Parwis,SpM. Dari penjelasan dokter ternyata pterigium termasuk penyakit genetis. Adapun angin, debu, panas terik matahari yang berlebihan seperti penjelasan yang banyak say abaca di internet hanyalah pemicu. Faktor dasarnya karena bawaan genetis tadi. Penderita pterigium ph air matanya di bawah tujuh (asam) sementara air mata yang nomal pada umumnya phnya di atas tujuh (basa). Dari konsultasi tersebut disepakati insyaAllah minggu depannya akan operasi dengan biaya dua juta rupiah. Namun di luar dugaan sabtu pagi, keesokan harinya saya dapat telpon dari kampung bahwa bou saya (adik ayah yang paling kecil) dibawa ke RSUD Padangsidimpuan karena kondisi kesehatannya memburuk. Hanya berselang beberapa jam kemudian, ternyata Allah telah memanggil beliau. Tidak ada pilihan bagi saya kecuali harus segera mempersiapkan diri untuk bisa pulang ke kampung (Tapsel) bersama keluarga yang berada di Asahan. Kondisi berduka ini ditambah keadaan keuangan yang belum memungkinkan menjadikan rencana operasi harus diundur untuk beberapa saat.

Rabu, 18 Januari 2012, tiga hari setelah masuk sekolah di semester genap. Saya menjumpai pegawai KPN SMA N 1 Tanjungbalai, kemudian menyampaikan rencana mau minjam uang untuk keperluan berobat. Beliau pun segera memprosesnya, Alhamdulillah hari itu juga langsung dana yang mau dipinjam bisa dicairkan. Keesokan harinya, kamis, 19 Januari 2012 bersama keluarga, kami pun berangkat ke Medan untuk menjalani operasi yang sudah direncanakan bersama dr.Debby Parwis,SpM.

Sehari setelah berada di Medan, tepatnya hari jum’at, setelah melaksanakan sholat isya’, niatan untuk melakukan operasi mata Alhamdulillah dapat terwujud juga. Operasi tersebut saya jalani di klik spesialis mata “ain” milik dr.Debby Parwis,SpM di daerah jalan S.Parman Medan. Operasinya tidak terlalu lama, hanya sekitar 20 menit. Setelah operasi kami langsung diperbolehkan untuk pulang ke penginapan. Keesokan harinya sekitar jam 10.30 perban mata saya dibuka dan diperiksa oleh dokter. Katanya tinggal cari kacamata hitam saja untuk mengurangi cahaya dan menjaga agar tidak kena debu. Perbannya bisa dibuka sendiri kalau kacamatanya sudah ada.

Setelah operasi tersebut saya diberi dua buah jenis tablet, masing-masingnya di makan tiga kali sehari. Serta tiga jenis obat tetes mata. Dua jenis ditetesi empat kali sehari dan yang satunya lagi delapan kali sehari. Kemudian dokter juga menuliskan resep tambahan apabila mata saya dempet setiap bangun tidur. Setelah dibeli ternyata obat yang dimaksud juga berbentuk tetes.

Saat ini insyaAllah dalam proses pemulihan. Semoga mata saya akan kembali sehat. Perjalanan ini memberi pelajaran penting bagi saya betapa besar nikmat penglihatan yang Allah berikan.

Oleh. Herman Siregar

About these ads

Tentang Herman Siregar

Berupaya persembahkan yang terbaik
Tulisan ini dipublikasikan di Serba serbi. Tandai permalink.

38 Balasan ke Perjalanan Saya Untuk Bisa Sembuh dari Pterigium

  1. Harun Arn Ar berkata:

    Suatu perjuangan penuh liku-liku, sepanjang masih ada kemauan yang kuat utk berobat insyAllh terkabul. Saya berdo’a semoga anda bisa sembuh dan sehat …. (amiiin)

  2. Casanova suryani siagian berkata:

    Wah…
    s’buah perjalanan yg mengharukan y pak….
    Alhamdulillah bpk bisa operasi s’telah ad b’berapa rintangan….
    s’mogha mata bapak bisa sembuh seperti sedia kala…
    Amiiinnn…

  3. roy berkata:

    Allhamdulillah Pak Herman sudah bisa operasi, mudah2an cpt sembuh total dan ptyregium-nya tidak akan tumbuh lagi, amin. Perkenalkan nama saya Roy (31th)di Surabaya. Yg di alami Pak Herman sama persis dgn apa yg saya alami sekarang ini, sejak saya duduk di bangku SMP (17 th yg lalu) sewkt plg sekolah mata saya kemasukan benda asing. Dan skrg mata saya positif terkena PTYREGIUM, betapa pedih dan gatal rasanya, skrg sudah menutupi kornea mata, karena keterbatasan biaya jadi sampai sekarang saya tidak bisa melakukan operasi mata. Alangkah bahagianya jika saya bisa melangsungkan operasi seperti Pak Herman, untuk menahan rasa pedih dan gatal saya hanya bisa beri obat tetes mata setiap harinya. Kalau boleh tau Pak Herman di kasih oleh Dokter obat tetes mata apa, mungkin saya bisa membelinya di apotik. Terima kasih

    • Herman Siregar berkata:

      Makasih atas do’anya pak, semoga bpk juga bisa segera berobat. Selagi ada kemauan insyaAllah akan ada jalan. Obat tetes yang direkomendasikan dokter untuk penderita pterygium yang belum dan sudah pernah dioperasi “Cendo Lyteers”.

      • camelia berkata:

        Pak herman dan Roy, saya jg sama ceritanya, baru pulang dr RS divonis pterigium oleh dokter. Saya dikasi obat tetes Cendo Minidose ( CENFRESH ), ada komen knp beda ya atw msh sejenis Cendo kali.

      • Aries berkata:

        sudah pernah mencoba dengan Herbal tetes mata, digunakan 2 tetes/mata 1 x hari…banyak yg berhasil, memang waktunya tidak singkat yg penting sabar dan rutin

  4. endha Ginting berkata:

    Mudah2an cepat sembuh ya Pak dan sehat seperti semula, saya juga mao tanya Pak, jadi setelah di operasi apakah mata bpk masih kelihatan merah seperti sebelumnya di operasi ? sya juga ada pterygium, jadi sering kelihatan merah, sering juga saya pake obat tetes mata supaya gk kelihatan merah, krna membuat kurang merasa nyaman, terlebih2 saat berkomunikasi sama orang lain.

    • camelia berkata:

      Halo endha, saya liat di youtube video, merah stlh operasi adalah normal, katanya bisa brlangsung dlm bbrp minggu stlh operasi, dan selanjutnya akan hilang merahnya.

      Senangx berbagi :)

  5. Hendra berkata:

    Saya senang membaca tulisan… dan juga diikuti rasa penasaran karna saya juga mengalami kasus yang serupa. Kalau boleh tahu… setelah hampir 1 tahun… bagaimana hasil nya sekarang Pak Herman….? Berapa lama waktu pemulihan yang dibutuhkan sampai bisa terlihat normal kembali…?

  6. lenie berkata:

    smoga lekas pulih dan sehat,, saya juga baru selesai operasi pterygium malah kedua mata saya smua kena dan di operasi, saat saya menulis ini pun kondisi mata saya belum sembuh benar masih di perban, kalau yang sebelah kiri Alhamdulillah sudah sembuh, yang saya tanyakan disini untuk cendo lyteeris iyu apa boleh dipakai da angka waktu yang pajang, atau hanya saat mata meradang saja, terimakasih

    • Rohman berkata:

      Mba Lenie,,,saya mau tanya,,itu operasi Pterigium terasa sakit apa ngga,,apakah si pasien yang operasi di bius ,mohon informasinya,,karena saya mengidap pterigium ,dokter sudah merekomendasikan untuk di operasi,,tapi membayangkannya saja sudah merinding. Demikian,trimakasih

  7. Herman Siregar berkata:

    Sebaiknya dikonsultasikan ke dokter spesialis mata aja mas. Saya juga hanya cerita pengalaman. Makasih.

    • Rohman berkata:

      pak Herman,,saya juga mengidap pterigyum dan dokter merekomendasikan supaya di lakukan operasi,,yang ingin saya tanyakan,,apakah operasi yang berlangsung selama 20 menit itu terasa sakit ? ,apakah pasien yang di operasi di bius ? .operasi mata ini saya membayangkannya saja masih merinding,,jadi takut-takut untuk melakukan operasi,,demikian,,mohon sharing nya,,terimakasih.

  8. Lia berkata:

    Saya juga menderita pterigyum Pak, bahkan pertama kali saya merasakan kejanggalan pada mata saya , saya ingat hari Rabu Feb-2012, segera saya memeriksakannya ke klinik dekat kost yang juga merupakan tempat rujukan kesehatan di tempat kerja saya di Sidoarjo, alhasil sang Dokter ( Dokter Umum pada waktu itu saya lupa namanya) memberitahu bahwa mata saya tekene tumor jinak . saya sangat kaget dan takut karena saya anak rantau dan jauh dari orang tua maupun sanak saudara disana. Ketika saya bertanya apakah bisa disembuhkan? Ia menjawab “tidak., sembuh juga paling nanti kambuh lagi, karena pemicu penyakit ini adalah debu, angin, cahaya matahari, AC , dan itu semua adalah hal yang setiap hari saya jumpai di pekerjaan. Saya sangat drop dan takut, dari sana dokter itu hanya memberikan vitamin dan obat tetes biasa untuk mengurangi merahnya. Lalu ia juga menambahkan jika saya ingin operasi saya harus menunggu sampai 3 bulan sementara selaput mata itu menebal karena juka dengan kondisi saat itu ( masih tipis) dipaksakan untuk melakukan operasi yang akan terjadi justru kerusakan atau tergoresnya kornea dan bagian selaput mata saya. pada saat itu saya menjadi semakin bingung dan takut. kemudian hari sabtunya saya bawa ke RSUD Sidoarjo poli mata, saya ditangani Dokter dan beberapa mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang saat itu sedang KKL mungkin., lalu saya ditanyai : sudah dari kapan ? sudah pernah berobat kemana, dan sebagainya. sepulangnya saya diminta menebus resep yang ternyata juga obat tetes dan vitamin namun berbeda merk (tentunya yang ini lebih mahal) . Saya tidak berhenti sampai disitu , melihat anehnya penyakit ini yang katanya tidak berbahaya namun dapat mengganggu penglihatan dan artikel di internet yang menunjukkan gambar2 mata pterigyum yang sudah parah lantas saya beserta orangtua saya ( mereka datang jauh2 dari Pekalongan ke Surabaya pada saat itu ) menuju klinik mata India di bilangan pasar kembang surabaya, namun kata orang yang disekitar klinik tersebut bahwa terapis bukan orang indianya melainkan asisten , ia hanya memeriksa selebihnya obat herbal saja dan hanya sedikit yang cocok disini.. Mendengartnya saya dan ayah saya berbalik arah menuju jalan medis yang kebetulan orang yang berkata tadi menyarankan ke RS Mata Undaan Surabaya yang tidak begitu jauh dari tempat saya berdiri saat itu. Di RS Mata Undaan seluruhnya adalah penanganan mata, ada 2 kategori, Poli umum dan VIP. Saya memilih VIP karena pikir saya pasti akan lebih bagus penanganannya. Setelah itu saya diperiksa berbagai tahapan , sampai kacamata yang selama ini saya gumakan pun diperiksa (Minus 0.5), analisisnya adalah pterygium , kacamata saya terlalu tinggi minusnya dan disarankan untuk mengganti lensa dengan ukuran 0.25 saja. Setelah menebus resep saya ke optik untuk menganti lensa tersebut. Seminggu setelahnya say datang kembali ke RS Undaan untuk kontrol bagaimanakah kondisi mata saya kini, dan dokter Hermini yang menangani saya berkata bahwa keadaanya sudah membaik dari sebelumnya :)
    sekarang saya sudah pindah tempat kerja yaitu di Kota Demak, terakhir 22-Dec 2012 saya berniat memeriksakan ibu saya sebelum memesan kacamata baca, dan iseng2 sayan minta di KIr lagi dan fantastis, berkat mengonsumsi vitamin mata itu justru minus mata saya yang sembuh, pterygyum saya masih ada namun sangat tipis, dokter mata di optik tersebut menyarankan untuk saya melepas kacamata saya yang minut 0.25 dan menggantinya dengan kacamata normal sebagai pelindung sinar dan radiasi komputer saja. Semoga dengan ini mata saya bisa sembuh . Ini cerita ku :)

  9. juraida berkata:

    bgm mata bpk skrg,apa sdh sembuh total?
    sy baru sepekan op pterygium

  10. rie berkata:

    sy jg mengalami kendala yang sama,kt dktr jg krn iritsi debu,
    dan dkter menyarankan untk mengknsumsi obat sampai merahnya hlg,dan periksa kembli untk meninjaklanjti pterygiummya,kira – kira menurt bpk,lbh baik periksa di dktr rs atau optik mata?trimksh

  11. dessy berkata:

    klo boleh tau, vitamin mata apa yg mbak konsumsi?
    Saya juga prnah operasi pterigium,tp sptnya kambuh lagi.

  12. camelia berkata:

    Pak herman saya lia, sore tadi saya baru pulang dr RS hbis priksa pterigium mata kiri saya.
    Saya mau tanya pak biaya operasinya total brpa wkt itu? Saya kbetulan d jkt skr apa harus ke medan ke t4 praktek dr.debby jg, saran bapak bgm?
    Saya merasakan ketidaknyamanan dgn mata kiri saya, terasa berat dan gampang iritasi serta ada sesuatu di mata saya krn pterigium itu. Kykx kalo biaya tdk trlalu mahal saya akan minta dioperasi saja.

    Mohon masukan dari pak herman, trm ksh.
    (Saya 32 thn)

    • Intan berkata:

      Hai camelia salam kenal, saya Intan. Saya juga kena pterygium saya udah operasi di JEC.
      Namun baru 2 bulan setelah operasi pterygium nya tumbuh lagi :(

  13. Eri Ns berkata:

    pak…apakah stlh d opersi mt bpk skrg msh merah,silau ato sring berair??mhon pnjelasannya y pak salnya sy jg bru sminggu d operasi n blum bs mngajar…mta sy msh merah n silau bhkn brair…brp hr bpk bs mngajar kmbli stlh d operasi…sy ingin cpt norml pak sbntr lg murid mghdapi UNAS pngin cpt mngjr…
    tlg infony y pak…trim’s

  14. Asnita Meydelia berkata:

    Bapak saya mau tanya. kalo seumpama gak di operasi apa bisa menimbulkan kebutaan? Saya masih anak SMA. kmren sya priksa di dokter umum katanya sy sakit pterigium.

    • Aries berkata:

      Bila berkenan mengobati dengan herbal, jadi tanpa operasi, bisa menggunakan tetes mata herbal Radix dan mengkonsumsi suplemennya 1-2 kapsul / hari setelah makan. info selebihnya radixvitaeonline.blogspot.com

  15. Nuralim Yasrib berkata:

    kalau saya sejak smp kelas 2 pak .berapa biaya operasinya kalau nonpns ?

  16. Nuralim s pd berkata:

    kalau saya sejak smp kelas 2 pak .bisa kirim no hpta pak q mau bicara langsung !!!!! kalau saya ni no hpq 085299999749

  17. yoene berkata:

    penyandang pterygium ternyata punya cerita yg relatif sama. demikian pula anak saya. sejak SMP, matanya didiagnosa pterygium. terus-terusan kontrol dokter mata… terus-terusan menggunakan obat tetes… sudah dioperasi kanan dan kiri.. kata dokter gak bisa dibabat habis krn lapisan pterygium tsb nempel cukup dalam di kornea. jadi sepertinya percuma dioperasi krn sptnya tumbuh lg. sediiih… sekali apalagi anak saya itu hobinya malah membaca. saat ini anak saya menggunakan kacamata silindris, msh rutin dg tetes matanya. entah sampai kapan kita akan berjuang utk kesembuhan matanya. Insya Allah, ada buah manis dari sabarnya anakku. Allahu Robbi sungguh menyayangi anakku ini. Mohon ada lagi share pencerahan mengenai hal ini……

    • Aries berkata:

      salam kenal mba Yoene, untuk membantu mengatasi pterygium dan silinder tanpa operasi, bila berkenan dengan herbal adalah dengan tetes mata radix, digunakan 2 tetes/mata dan suplemenya (1-2 kapsul/hari – setelah makan). Pakai saja dengan rutin, reaksi pada umumnya bila rutin dapat menurunkan dan untuk beberapa kasus malah menyembuhkan silindris dan juga petrygiumnya.silahkan cek di radixvitaeonline.blogspot.com. Semoga bermanfaat.
      Salam,
      Aries

  18. Sis Undra Putra berkata:

    Askum pak herman. salam kenal dari saya sis undra dari kota pariaman, apa yang bapak alami sama persis dengan apa yang saya alami, saya juga telah operasi mata pada tahun 2009 di rumah sakit daerah kota pariaman, pada awalnya operasinya sukses , namun satu tahun sesudah itu petrygiumnya kambuh lagi, sesudah itu saya konsultasikan lagi sama dokter katanya operasi lagi, namun uang tidak ada untuk operasi kedua kalinya. sampai sekarang saya ngak ada lagi konsultasi sama dokter, hanya saja saya beri obat yang saya beli di apotik, “Cendo Xitrol”
    nomun khasiat kalau mata sudah mulai merah dari kelelahan baru saya teteskan mata tersebut langsung normal kembali dari merahnya, tapi benjolannya yang ada pada titik hitam itu tidak juga beerkurang sampai sekarang. obat cendo lyteers ini belum pernah saya coba kalau ada nantik di apotik juga saya beli, tapi pak berapa harganya.trimakasih,,,,, semoga kita sama sembuh dari penyakit ini jangan lupa berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kesembuhan amin. kata Rasulullah. ada penyakit ada obatnya, cuma kita butuh usaha dan ihtiar.” Innallaha ma’asshobirin” = Sesungguhnya Allah Bersama Orang2
    Yang Sabar.

  19. Heru berkata:

    Sy usia 31,tahun 2010 Kedua mata saya terkena pterigium, sebelumnya saya search di internet u/ pengobatan alternatif tanpa perasi dan sy tertarik mencoba menggunakan radix vitae (obat tetes herbal yg ada di internet) harganyapun cukup mahal Rp.400 rb+ 12rb rb ongkos kirim, setelah datang sy langsung teteskan, memang obat ini sangat perih tadinya sy berharap banyak dari obat ini tapi setelah pemakaian 1 bulan, tidak ada tanda2x pterigium saya akan sembuh, justru seluruh mata saya malah semakin memerah seperti orang sakit mata sehingga sangat mengganggu aktivitas saya.
    Akhirnya sy hentikan penggunaan radix vitae yg tinggal beberapa tetes itu, kemudian sy konsultasi ke dokter Mata di RS. Aini Jakarta, di sana sy dianjurkan u/ dioperasi,..minggu depannya mata kiri saya lansung dioperasi dengan biaya kurang lebih 3 jt ( 1,8 jt operasi+ konsultasi berapa x),.. Tadinya sy banyak berharap bahwa mata kiri saya akan sembuh sehingga nantinya saya jadwalkan juga u/ mata kanan dioperasi u/ mengangkat jaringan pterigiumnya..
    Namun mata kiri saya yg habis operasi hanya bersih dalam 1 bulan, pada bulan berikutnya jaringan pterigium tumbuh kembali setelah beberapa bulan jaringan pterigium tersebut sudah kembali ukurannya seperti semula,..
    3 bulan pasca operasi sy konsultasi kembali ke dokter RS. Aini, sy lupa dokter bilang apa,.tapi intinya sebagian besar pterigium memang akan tumbuh kembali, apalagi u/ usia di bawah 40 tahun dikarenakan metabolisme nya yg masih tinggi,..
    Saat ini mata saya tetap ada pterigiummya,.jika kemana mana sy slalu membawa obat tetes mata,.u/ sekedar mengurangi merahnya,.memang sangat ga enak karena rekan kerja / client slalu menayakan kenapa mata saya merah,..memang cape menjelaskannya, tapi ya sudah resiko.

    • Radix Vitae berkata:

      Salam kenal pak, entah herbal atau operasi, pastinya ada biayanya semua. mungkin kalau mau bersabar dan minimal 6 bulan rutin dengan tetes mata Radix Vitae, mungkin ceritanya berbeda. Memang banyak orang berharap dengan 1 botol banyak keajaiban. :-). Salam radixvitaeinfo@gmail.com

  20. benyamin sembiring berkata:

    Pak Herman,

    Kita punya penyakit mata yg sama. Sudah dua kali operasi di rumah sakit mata ternama di Jakarta. Tapi nampaknya penyakitnya tak sembuh juga. Karena mata saya sama seperti semula. Sampai saat ini sebenarnya belum mengganggu, cuma sering berwarna merah sehingga sering juga ditanya oleh teman-teman.
    Dalam waktu dekat saya akan berkonsultasi lagi, menanyakan bagaimana semua ini. Apakah mau operasi lagi atau ada jalan lainnya. Atau mungkin ada pengobatan alternatif.

    Salam
    benz

  21. dan sekarang apakah anda menggunakan kaca mata?setiap harinya?

  22. Syaeful Mujib berkata:

    BangHendra, gimana kondisi mata anda sekarang? karena menurut dokter pterygium tdk bisa sembuh total,maksudnya bisa tumbuh lagi nanti. sekarang sudah berapa bulan setelah oparasi,bang? apakah sembuh total. saya juga mengalami pterygium dan sempet putus asa karena kata dokter hanya bisa dikurangi pertumbuhannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s