PRRI; Pemberontakan Atau Pergolakan?

PRRI; Pemberontakan Atau Pergolakan?

 

Berdasarkan silabus pelajaran sejarah SMA yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), diantara kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa setelah belajar sejarah adalah kemampuan menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahan kemerdekaan dari ancaman disintegrasi bangsa. Diantara contoh yang diberikan adalah bentuk pergolakan dan pemberontakan PKI Madiun 1948, DI/TII, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G30S/PKI).

Kalimat yang digunakan oleh silabus pelajaran sejarah pada kurikulum KTSP sebenarnya memberikan peluang kepada para guru sejarah untuk melakukan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa tersebut apakah termasuk pergolakan atau pemberontakan. Kenyataan yang kita temukan pada buku pelajaran sejarah yang dikeluarkan oleh berbagai penerbit justru seolah dengan sengaja menghilangkan kata pergolakan dan hanya menggunakan kata pemberontakan secara tunggal. Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi mereka yang tidak memahami sejarah dengan baik. Karena akan memberi peluang bagi yang membacanya berpikir secara monokausal, yakni model berpikir yang selalu berpendapat bahwa penyebab suatu peristiwa adalah satu. Sehingga akan masuk ke dalam alam bawah sadar seseorang bahwa peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas adalah murni pemberontakan tanpa memberi peluang untuk melakukan interpretasi dalam persfektif yang berbeda.

Ditinjau secara bahasa arti dari kedua kata tersebut sangatlah berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonsia, yang dimaksud dengan pemberotakan adalah perlawanan atau penentangan kepada kekuasaan (pemerintah dsb). Sementara pergolakan merupakan perjuangan hidup; kekeruhan dalam lapangan politik dsb; atau dapat juga diartikan dengan keadaan tidak tenang. Diantara keduanya jelas sangat berbeda. Kalau pemberontakan memberikan makna ada yang dibenarkan dan adapula yang disalahkan. Sementara pergolakan sendiri tidak memberikan isyarat benar dan salah. Untuk peristiwa-peristiwa di atas jelas yang disalahkan adalah gerakan terkait, sementara pemerintah pada posisi yang benar tanpa salah dan tanpa dosa.

PRRI sebagai contoh studi kasus, yang dalam buku pelajaran sejarah di sekolah atau sering dituliskan dengan pemberantakan “PRRI/Permesta”. Terkait dengan penulisan PRRI yang digandenkan dengan Permesta di sebagian buku di sekolah juga sepertinya layak untuk dikoreksi. Karena PRRI dan Permesta adalah dua gerakan di daerah yang berbeda, PRRI di Sumatera sementara Permesta di Sulawesi.

Meninjau PRRI Dari Dua Sudut Pandang

Klaim yang diberikan oleh pemerintah terhadap PRRI sebagai sebuah gerakan pemberontakan sepertinya harus dikaji secara objektif apakah benar adanya. Perlu ada sudut pandang yang lain untuk menjadi perbandingan sehingga menambah wacana berpikir sekaligus memberi penjelasan apakah pandangan yang menyebutkan PRRI sebagai pemberontak layak dipertahankan atau tidak.

Harus dipahami bahwa latar belakang peristiwa PRRI adalah terkait kebijakan pemerintah pusat yang terlalu sentralistis, dimana Jawa dijadikan “anak emas” pembangunan Indonesia. Meskipun daerah – daerah di luar pulau Jawa mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap pemasukan negara namun distribusi pembangunan justru terpusat di Jawa dan daerah luar Jawa malah hanya mendapat proporsi yang sedikit. Sehingga nuansa ketidakadilan begitu terasa dalam pembangunan nasional.

PRRI hadir sebagai sebuah kritik atas sikap pemerintah pusat yang kurang memperhatikan daerah. Ia merupakan koreksi atas kebijakan pemerintah pusat yang Jawa Sentris, yang dirasa tidak adil dalam pembangunan negara. Lantas kemudian pastahkah PRRI dicap sebagai pemberontak? Bukankah pulau Sumatera sebagai penyumbang terbesar ekspor nasional pada waktu itu. Ketika masyarakat Sumatera hanya meminta perimbangan pembangunan dengan pulau Jawa justru divonis sebagai upaya perlawanan terhadap pemerintahan yang sah.

Oleh karenya pandangan PRRI sebagai sebuah pemberontakan layak untuk ditinjau kembali. Alangkah lebih bijak kalau seandainya disebut sebagai peristiwa pergolakan saja.

 

 Oleh. Herman Siregar

About these ads

Tentang Herman Siregar

Berupaya persembahkan yang terbaik
Tulisan ini dipublikasikan di Humaniora. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s